Curhat Menjelang Program Pasca Sarjana
Tak terasa sudah 4 bulan saya menjalani keseharian sebagai seorang Fresh Graduate (sarjana). Hari-hari ini pun saya lalui tanpa pengalaman-pengalaman yang menarik. Baru saya rasakan bosannya berdiam diri seharian di rumah sambil menunggu pendaftaran program pasca sarjana (S2) dimulai bulan Juni nanti. Mungkin kalian heran mengapa saya hanya berada di rumah seharian. Cari kerja kek… Yah.. banyak sekali teman saya yang menyarankan hal ini, termasuk pacar saya sendiri. Lantas saya tegaskan.. saya sudah mulai bekerja sebagai wiraswasta sejak masih di bangku SMP. Musik adalah dunia saya. Bahkan semua materi yang saya dapatkan termasuk rumah, mobil, sampai biaya pendidikan adalah hasil dari bermusik.
Terus terang saya sangat cinta dengan dunia pendidikan. Bahkan lebih tepatnya ketagihan pendidikan, Saya sangat suka dengan kegiatan belajar-mengajar, malah sempat terpikir untuk mengabdikan diri saya ke dunia pendidikan. Entah kenapa saya bisa begitu tertarik terhadap ruang lingkup ini. Sepertinya saya merasakan suatu aura yang sangat cerah ketika mengikuti proses belajar-mengajar. Terutama saya bisa merasakan karisma dan sikap pemimpin sekaligus kesan intelek ketika suatu ketika berkesempatan mengajar salah satu mata kuliah di kampus. Benar-benar pengalaman yang membanggakan karena berkesempatan menghimbau di depan puluhan pasang mata.
Berbeda dengan pandangan umum bahwa kuliah hanyalah formalitas agar dapat memperoleh gelar akademik, saya malah merasa kuliah adalah hiburan spiritual dan kebutuhan jiwa. Terdengar munafik? Bagi sebagian orang mungkin begitu. Tapi bagi saya tak ada yang lebih menyenangkan daripada mengikuti perkuliahan. Aneh? Memang aneh. Saya termasuk orang yang tidak pernah bosan berdiskusi, berdebat, berteori, sampai berorganisasi. Sangking anehnya, ketika saya S1 dulu teman bicara saya di kampus sebagian besar adalah para dosen. Hehehe… orang yang aneh..
Oh… pasca sarjana… kira-kira sanggup kah saya memasuki sistem perkuliahan yang derajatnya lebih tinggi ini? Bisakah saya beradaptasi dengan lingkungan yang semakin dewasa dan matang? Entahlah… Semuanya begitu kabur jika digambarkan jauh sebelum kegiatan ini dimulai. Yang paling saya harapkan adalah keramahtamahan para dosen seperti di almamater saya dulu. Semoga dosen yang akan saya temui di perkuliahan ini juga bersikap terbuka, membimbing, rendah hati, dan bijaksana.
Sekarang tinggal 1 bulan lagi menjelang hari pendaftaran. Yang jelas ada dua perasaan yang muncul di benaknya: tak sabar sekaligus cemas. Tapi yang jelas saya sangat mendambakan peristiwa ini. Saya mohon do’a semoga saya dapat melalui berbagai rintangan dan hambatan.
Terima kasih sudah mau membaca keluh kesah saya.